<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Baitul Mal Nusantara</title>
	<atom:link href="http://www.bmnusantara.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bmnusantara.org</link>
	<description>Menegakkan Pilar yang Runtuh</description>
	<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 03:10:00 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Dompet Dhuafa Kembali Bagikan Zakat Dirham</title>
		<link>http://bmnusantara.org/2011/06/dompet-dhuafa-kembali-bagikan-zakat-dirham/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2011/06/dompet-dhuafa-kembali-bagikan-zakat-dirham/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jun 2011 03:10:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<category><![CDATA[Dirham]]></category>

		<category><![CDATA[Dirham Perak]]></category>

		<category><![CDATA[dompet dhuafa]]></category>

		<category><![CDATA[Koin Dirham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Depok, 20 Juni 2011
Dompet Dhuafa Kembali Bagikan Zakat Dirham
Yayasan Dompet Dhuafa (YDD) Republika  bersama Baitul Mal Nusantara kembali bagikan zakat mal dalam Dirham. 
Sepanjang tahun 2010-2011 lalu Dompet  Dhuafa (DD) Republika, bersama Baitul Mal Nusantara (BMN), telah  membagikan zakat mal Dirham perak kepada mustahik yang berhak. Total  zakat mal yang dibagikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Depok, 20 Juni 2011</strong><br />
<span class="Head10">Dompet Dhuafa Kembali Bagikan Zakat Dirham</span></p>
<p><span class="Head04">Yayasan Dompet Dhuafa (YDD) Republika  bersama Baitul Mal Nusantara kembali bagikan zakat mal dalam Dirham. </span></p>
<p><span class="pDetail">Sepanjang tahun 2010-2011 lalu Dompet  Dhuafa (DD) Republika, bersama Baitul Mal Nusantara (BMN), telah  membagikan zakat mal Dirham perak kepada mustahik yang berhak. Total  zakat mal yang dibagikan lebih dari 8000 Dirham, berasal dari muzakki  yang memberikan kepada Dompet Dhuafa sebanyak 2000 Dirham. Sisanya yang   ditarik lewat  Baitul Mal Nusantara.</p>
<p>Kini, untuk periode 2011-2012, kembali Dompet Dhuafa menyalurkan  sebagian zakat malnya melalui kegiatan BMN, yaitu rangkaian Festival  Hari Pasaran (FHP). Total zakat mal yang disalurkan juga hampir sama  dengan periode sebelumnya, tepatnya 1963 Dirham. Dari Baitul Mal  Nusantara sendiri  setiap kali ada penarikan zakat akan dibagikan  terutama juga di sekitar penyelenggaraan FHP.</p>
<p>Untuk periode ini, rangkaian FHP telah berlangsung beberapa kali,  dan pembagian zakat mal juga sudah mulai dilakukan. Pekan lalu, dua FHP  berlangsung serentak, di  Bandung dan di Bantul, dengan pembagian zakat  masing-masing 50 Dirham. Pekan depan, 26 Juni 2011, FHP kembali akan  berlangsung di Bekasi, juga dengan pembagian zakat mal sebanyak 50  Dirham.</p>
<p>Berkah pembagian zakat dalam Dirham sudah langsung terasakan.  Salah satunya, jumlah mustahik yang menerima pembagian zakat mal Dirham  tahun ini dipastikan jauh lebih besar, meski dengan jumlah Dirham yang  sama. Mengapa? Karena daya beli Dirham yang telah meningkat sekitar 100%  dalam setahun ini. Pada periode lalu setiap mustahik rata-rata  mendapatkan 1-2 Dirham, yang cukup untuk membeli satu paket sembako.  Kini tiap mustahik cukup diberi 0.5-1 Dirham untuk membeli barang yang  sama.</p>
<p>Bagi Anda yang telah mengetahui harta Anda jatuh tempo untuk  mebayarkan zakat, yaitu bila memenuhi nisabnya, setara 20 Dinar emas  atau 200 Dirham perak, dapat men ghubungi petugas zakat di BMN.</p>
<p><strong>Baitul Mal Nusantara (BMN)</strong></p>
<p>Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04.<br />
Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.<br />
Telp. 7756071-7752699/<br />
email: abdarrahman@bmnusantara.org.</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2011/06/dompet-dhuafa-kembali-bagikan-zakat-dirham/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://bmnusantara.org/2011/06/194/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2011/06/194/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 06 Jun 2011 06:23:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Futuwwa
Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi
Kita akan membahas satu istilah sufi, yang dalam pengertian tertentu, selaras dengan tawhid yang menempatkan kita pada pemahaman akan Allah subhaanahu wa ta’ala. Istilah yang dimaksud atau ditransformasikan oleh tawhid dalam diri kaum muslim yang mendapat pengetahuan tawhid. Ini merupakan istilah teknis yang kita telusuri dari Al-Qur’an, yakni futuwwa.

Futuwwa berarti sejenis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><strong>Futuwwa</strong></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><strong>Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi</strong></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">K</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">ita akan membahas satu istilah sufi, yang dalam pengertian tertentu, selaras dengan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>tawhid</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> yang menempatkan kita pada pemahaman akan Allah subhaanahu wa ta’ala. Istilah yang dimaksud atau ditransformasikan oleh </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>tawhid</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> dalam diri kaum muslim yang mendapat pengetahuan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>tawhid</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">. Ini merupakan istilah teknis yang kita telusuri dari Al-Qur’an, yakni </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">.<br />
</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em></em></span></span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Futuwwa</em></span><span lang="sv-SE"> berarti sejenis akhlak mulia. Ada orang yang menerjemahkannya sebagai sikap kesatria tetapi kata ini tidak ada hubungannya dengan kuda perang. Kata ini berhubungan dengan kapasitas besar atau kualitas pengetahuan bagi abdi Allah subhaanahu wa ta’ala.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><strong>Tiga Ayat Sebagai </strong></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><strong>Landasan</strong></span></span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Kita akan mengambil tiga ayat. Sebetulnya ada ayat-ayat lain tetapi yang tiga ini merupakan yang paling penting yang mendefinisikan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa. Futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> berasal dari kata </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fata</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> yang berarti “pemuda”. Kata majemuknya </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fatyan</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"> dan </span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fataya</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> untuk jenis wanita. Sebagaimana kita lihat dalam al Qur’an kata ini sebagai </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fata</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">.<br />
Pertama kita lihat pada surat al Kahfi yakni ayat 18  dan 13. Kata ini mengacu pada para pemuda yang dimasukkan ke dalam gua dan Allah<br />
berfirman: </span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman dan kami tambahkan pada mereka petunjuk</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">”<br />
</span></span></p>
<p class="western" style="margin-left: 0.5in; text-indent: 0.5in; margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Al Kahfi 1</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">3</span></span><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m1ff65bbb.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-200" title="futuwwa_htm_m1ff65bbb" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m1ff65bbb.jpg" alt="" width="84" height="72" /></a><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m115ec6ba.png"><img class="alignnone size-medium wp-image-203" title="futuwwa_htm_m115ec6ba" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m115ec6ba.png" alt="" width="261" height="72" /></a></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Kita akan kembali lagi pada surat Kahfi tetapi kita akan beralih dulu pada surat al Anbiya</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, surat 21, ayat 60 yang menyatakan.”</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Mereka mengatakan Kami mendengar seorang pemuda menyebut-nyebut berhala-berhala itu, mereka memanggilnya Ibrahim</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">”</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="RIGHT"><a href="../wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_ma118208.png"><img class="alignnone size-medium wp-image-206" title="futuwwa_htm_ma118208" src="../wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_ma118208-300x61.png" alt="" width="300" height="61" /></a><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Al<br />
Anbiya 60</span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Ayat ini mengacu pada momen yang terkenal ketika sayidina Ibrahim as, tidak sekadar menghancurkan berhala tetapi dengan petunjuk ilahi dia melakukan penghancuran ini dan inilah tindakan yang menghabiskan mereka karena dia tidak mengatakan “Aku menghancurkannya“, sebagaimana mereka mengatakan, tetapi dia mengatakan “Tidak, yang terbesarlah yang melakukannya.&#8221; </span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Mereka mengatakan, “Ini merupakan olok-olok. Bagaimana mungkin sebuah berhala mampu menghancurkan berhala lain?”. Pada titik ini Ibrahim mengungkapkan semua kejadian dengan ijin Allah- bahwa mereka tidak mempunyai kekuasaan. Ini merupakan indikasi pengaruh </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fata</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> yang mengubah seluruh situasi peribadatan yang salah.</span></span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Nanti kita akan<br />
kembali ke surat Anbiya tetapi sekarang kita akan kembali dulu ke<br />
surat Kahfi, ayat 60.</span></span><span style="color: #ff9900;"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><br />
</span></span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY">“</p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in" align="RIGHT">
<p><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m12c8ca85.png"><img class="alignnone size-medium wp-image-201" title="futuwwa_htm_m12c8ca85" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m12c8ca85-300x43.png" alt="" width="300" height="43" /></a></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in" align="JUSTIFY">
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Dan ingatlah ketika Musa berkata pada pengiring-mudanya, aku tidak akan berhenti sampai tiba pada pertemuan dua lautan</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">.”<br />
</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_48f2b474.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-197" title="futuwwa_htm_48f2b474" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_48f2b474.jpg" alt="" width="86" height="72" /></a><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Musa mengatakannya pada </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fata</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">-nya, pada pengiring-mudanya. Di sini kita memiliki tiga contoh penggunaan kata ini dan di dalam masing-masingnya ada pemuda  yang diberi pengetahuan oleh Allah. </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Ashabul Kahfi</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, merupakan orang-orang yang beriman kepada Allah dan “Kami menambahkan petujuk pada mereka,” karena mereka mengharapkan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>tawhid</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> murni, mereka tidak akan menerima  berhala dan mereka tunduk pada ketentuan Allah subhaanahu wa ta’ala dalam kejadian tersebut. Yang kedua ialah Nabi Ibrahim as dan ini merupakan pengamalan pengetahuan</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em> tawhid</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> yang mengalahkan kaum musyrikin.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Yang ketiga sangat penting yang berisi tentang Sayidina Musa yang menyingkap hikmah dari Allah subhaanahu wa ta’ala dan mengatakan pada pemuda yang menyertainya bahwa dia tidak akan menyerah sampai dia sampai pada tempat bertemunya dua laut. Karena dia seorang nabi dia juga mengajari pemuda itu agar mengikuti jalan nabi sehingga dia tidak akan menyerah sebelum sampai tempat pertemuan dua laut. Bagi kaum sufi, pertemuan dua laut merupakan tempat, dalam kata-kata Ata’illah, pertemuan syari’at dan hakikat karena bagi orang yang mengetahuinya, syari’at tidak memisahkannya dari hakikat dan hakikat tidak memisahkannya dari syari’at. Dia memberikan kepada masing-masing haknya.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY">
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Inilah tiga hal yang menjadi landasan kata </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fata</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, pemuda yang berpengetahuan, dengan kemuliaan spiritual. Jadi acuan Qur’an pada </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Ashabul Kahfi</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> yang tidak akan menyembah berhala tetapi memilih tinggal di gua guna menyelamatkan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>tawhid</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> mereka, nabi Ibrahim as yang menggunakan kemampuan inteleknya untuk menghancurkan kesyirikan penyembahan berhala dalam upaya unjuk<br />
ke-</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>tawhid-</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">an dan pengiring sayidina Musa as yang telah membantunya mencapai tujuan karena hal ini merupakan bagian cara Allah mengungkapkan pada Musa akan pengetahuan yang tinggi, bersifat ilahi, yang dia perlukan dalam menjalankan misi sebagai utusan Allah kepada kaumnya.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Ini berarti bahwa</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em> futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, kemuliaan, merupakan pintu menuju petunjuk. Kita kembali pada surat al Kahfi ayat 10. Pemuda itu berlindung di gua dan mengatakan, “</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Ya Allah, beri kami rahmat-Mu langsung dan bukakan jalan bagi Anda kepada petunjuk yang benar pada urusan kami ini.”</em></span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" align="RIGHT">
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Al Kahfi 10</span><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m2870bcec.png"><img class="size-medium wp-image-205 alignright" title="futuwwa_htm_m2870bcec" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m2870bcec-300x71.png" alt="" width="300" height="71" /></a></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Min ladunka</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> berarti langsung dari-Mu dan ini berarti petunjuk ilahi. Ini berarti</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em> tajaliyah</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> Dzat dalam bahasa sufi- penyingkapan ilahiah akan Esensi Allah subhaanahu wa ta’ala. </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Min amrina rashada</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">- kita sampai pada kata kunci yang berkaitan dengan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> yakni </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>rushd.</em></span></span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"> </span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Rashada</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> berarti petunjuk yang benar. Sekarang kita beralih ke surat al Anbiya dan kita akan kembali lagi ke surat Kahfi. </span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Kita lihat kesempurnaan Qur’an bahwa ketiga hal ini berkaitan erat, hal-hal yang luar biasa ini berhubungan secara sempurna dan bahwa kata-kata Qur’an secara ilahi diarahkan pada makna-makna yang spesifik ini.<br />
Sekarang kita beralih ke sayidina Ibrahim pada ayat 51. ”</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Kami memberi Ibrahim petunjuk yang benar dan Kami menyempurnakan pengetahuan atasnya.</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">”</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" align="RIGHT">
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Al Anbiya 51</span><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_2a092efe.png"><img class="size-medium wp-image-195 alignright" title="futuwwa_htm_2a092efe" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_2a092efe-300x48.png" alt="" width="300" height="48" /></a></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Tentu ada maksud sehingga Allah menyatakan bahwa petunjuk yang benar ini diberikan sebelum terjadi peristiwa, bahwa kedudukan tinggi sayidina Ibrahim as mendahuluinya. Allah memberi petunjuk yang benar sebelum peristiwanya sendiri terjadi, sebelum pertemuan dengan kaum musyrikin sehingga ketika saat itu tiba dia telah memiliki pengetahuan ilahiah dan mengetahui apa yang harus dilakukan. </span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Hal ini bukanlah berasal dari inteleknya yang berasal dari otak  tetapi inteleknya dalam pengertian percikan sinar kesadaran pengetahuan tentang apa yang harus dilakukan guna memerangi kaum musyrik.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Kemudian Allah menyatakan hal yang sangat menarik. “Kami sempurnakan pengetahuan atas dirinya.” Kita tentu tidak akan merasa heran jika Allah subhaanahu wa ta’ala menyatakan pada titik itu  bahwa Ibrahim telah memiliki pengetahuan lengkap atas Allah tetapi Allah menyatakan, “Kami sempurnakan pengetahuan atas dirinya.” Ini berlanjut dengan ayat ketika Allah subhaanahu wa ta’ala menyatakan : </span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Surat al Maidah 54 </span><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_341f0888.jpg"><img class="size-medium wp-image-199 alignright" title="futuwwa_htm_341f0888" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_341f0888.jpg" alt="" width="144" height="72" /></a></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" align="RIGHT">
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Kami mencintai mereka dan mereka mencintai Kami.” Sehingga “Kami memiliki pengetahuan lengkap atasnya dan dia mempunyai pengetahuan lengkap atas Kami,” yang menyebabkan mengapa Ibrahim mempunyai nama yang sangat istimewa, dia dinamakan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>al Khalil</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">. Syech Ibnu Arabi menjelaskan bahwa </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>al khalil</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> berasal dari satu istilah bahasa Arab yang berarti </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>bercampur<br />
sampai jenuh</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">. Jika kita meletakkan kain wol ke dalam air dan kain ini akan selengkapnya bercampur sampai jenuh sehingga sekalipun wol tetap wol dan air tetap air, wol itu sepenuhnya adalah air dan air itu<br />
sepenuhnya adalah wol tanpa inkarnasi atau kemanunggalan. Hamba adalah hamba dan Tuhan adalah Tuhan tetapi terjadi kejenuhan pengetahuan ini dalam kecintaan Allah subhaanahu wa ta’ala kepada Ibrahim as dan cinta Ibrahim untuk Allah subhaanahu wa ta’ala.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Kami memiliki pengetahuan lengkap atasnya.” Dalam inversi ini sangat penting disadari ketinggian kedudukan Ibrahim di antara nabi lain. Kita akan melihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat beragam acuan yang sangat istimewa mengenai Ibrahim dan mengidentifikasi dirinya dengan Ibrahim dengan berbagai cara. Penggunaan kata </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>huda</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> yang dapat dimilikkan pada Ibrahim merupakan kata yang dibawa<br />
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umatnya.</span></span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">S</span></span>ekarang kita sampai pada hal ketiga pada surat al Kahfi, Musa<span style="font-family: Arial,sans-serif;"> mengatakan padanya, “</span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Boleh aku mengikutimu dengan syarat bahwa engkau mengajari aku beberapa petunjuk yang benar yang telah diajarkan kepadamu?</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">”</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Al Kahfi 66</span></span><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m637bc638.png"><img class="size-medium wp-image-204 alignright" title="futuwwa_htm_m637bc638" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m637bc638-300x50.png" alt="" width="300" height="50" /></a></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY">
<p>Kandungan ayat ini<span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> luar biasa sehingga kita dapat terkecoh  dalam memahami seluruh kisah sayidina Musa karena hal ini penuh makna bagi kaum Sufi. Di dalamnya Allah memilih untuk nabi-Nya makna kesempurnaan kedudukannya yang tinggi dan tugas yang sangat sulit yang diembannya. Dia diberi instruktur alami yang sangat mirip dengan  cerita kedatangan malaikat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadis Muslim. Diriwayatkan kedua pasang lutut mereka saling bertemu dan malaikat bertanya kepada nabi tentang Islam, iman dan ihsan - pengajaran dari Yang Gaib kepada dunia yang </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>maujud </em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;">dalam sebuah pertemuan yang sangat istimewa. Hal ini sama dengan yang dialami nabi Musa dalam pertemuannya yang sangat terkenal, dengan ketiga kejadian yang dalam pandangan sekilas tampak salah tetapi<br />
kemudian ternyata terungkap makna yang sebenarnya.</span></p>
<p>“<span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Boleh aku mengikutimu dengan syarat bahwa engkau mengajari aku beberapa petunjuk yang benar yang telah diajarkan kepadamu? Ajari aku beberapa rashada yang telah diajarkan kepadamu. Kau beri aku rashada yang aku inginkan darimu. Untuk itulah pertemuan ini  terjadi, guna mendapat</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> rashada.“<br />
Dalam pengertian ini, ada </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>ashabul kahfi</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, ada nabi Ibrahim selaku seorang pemuda dan ada pengiring nabi Musa dan masing-masing mengandung ajaran tentang </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>tawhid</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> sehingga kita menghubungkan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> dengan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>rashada</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">. Dengan demikian </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"> merupakan pintu menuju petunjuk yang benar. </span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Acuan teknis pertama tentang </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fityan</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> berasal dari Hasan al Bashri yang merupakan salah satu Syech tarekat kita, sehingga apa pun yang dia katakan menjadi sangat penting buat kami, dan berkat kedekatannya dengan para sahabat dan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>tabiin</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">. Dia mengatakan bahwa pada masa awal </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fityan</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, orang yang berasal dari </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fityan</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> ini tidak dikenal melalui kata-katanya tetapi melalui perbuatan mereka dan itulah yang mungkin dikatakan sebagai ilmu yang bermanfaat. Ketika kita melakukan wirid  kita memohon dua kali kepada Allah agar diberi pengetahuan yang bermanfaat</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>, ‘ilman nafian</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"> dan dia mengatakan bahwa inilah perbuatan para pemuda yakni ilmu yang bermanfaat, inilah yang mereka inginkan – inilah pengetahuan dalam bentuk perbuatan.</span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><strong>Tuntunan Nabi</strong></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Sekarang kita beralih dari Qur’an kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kita mendapatkan hal yang sangat menarik. Seorang lelaki menyiapkan makanan untuk menjamu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beberapa sahabat. Pada saat hidangan datang salah seorang di antara mereka menolak makan dengan mengatakan dia sedang berpuasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,<br />
“Saudaramu telah mengundang kita dan telah bersusah payah mengupayakannya – makanlah!  Berpuasalah di hari lain kalau kau mau.”  Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang menetapkan kewajiban berpuasa dan memuji mereka yang mengerjakan</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em> nawafil</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> puasa dan menyatakan puasanya  berakhir karena seseorang sebagai adab penghormatan terhadap orang yang menyiapkan makanan. Beliau memberi perintah “Berpuasalah di hari lain kalau kau mau.“ Inilah</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em> futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">. Kata ini berarti menempatkan adab penghormatan tamu  kepada tuan rumah sebagai tindakan mulia di antara adab ibadah lain. Hadis ini<br />
berasal dari Baihaqi dan Daraqutni dari Jabir.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Satu lagi yang berkenaan dengan makanan ialah bahwa seekor domba telah ditawarkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau mulai memotong-motongnya dan membagikan dagingnya. Sayidah Aisyah, semoga Allah memberi salam kepadanya, berkata “hanya tingal bagian leher untuk kita.” Beliau memandanginya dan berkata, “Semua masih ada kecuali lehernya.” Inilah yang dikatakan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa.<br />
</em></span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> ialah bahwa tidak ada kesulitan atau ujian bagi seseorang sehingga melalaikan dari pengabdian kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Imam Junayd berkata pada suatu hari yang menyenangkan aku pergi<br />
mengunjungi Sufi Salih Saqarti   dan dia mengatakan padaku, “Ya, Abul Qasim! Tadi malam rohku mendengar sebuah suara dan suara itu mengatakan, “Ya Salih. Pertama Aku ciptakan  manusia dan semua<br />
mereka menghadap-Ku dan mengunjungi-Ku. Kemudian Aku perlihatkan kepada mereka dunia dan sembilan dari sepuluh meninggalkan-Ku, sisanya tetap bersama-Ku. Kemudian Aku ceritakan tentang jannah dan<br />
sembilan dari sepuluh menginginkannya dan satu di antara yang sepuluh itu bersama-Ku.  Pada mereka aku timpakan kesulitan dan ujian sehingga mereka menjadi lemah dan minta pertolongan sampai sembilan<br />
dari sepuluh menjadi jauh dari-Ku. Kepada yang tinggal Aku berfirman, ‘Kalian tidak menginginkan dunia, kalian tidak menginginkan jannah dan engkau tidak menghindar dari ujian-Ku.’ Dan mereka menjawab,<br />
‘Kami berserah diri Ya Allah sepanjang semuanya berasal dari-Mu.’”</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> merupakan rasa kasih universal yang mengikat manusia dan memutus hubungan  dengan pihak lain yang tidak sama kualitasnya dan ini berasal dari ayat : </span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin.”</em></span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" align="RIGHT">
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Al </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Ahzab 35 </span></span><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_7c686824.png"><img class="size-medium wp-image-196 alignright" title="futuwwa_htm_7c686824" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_7c686824-300x62.png" alt="" width="300" height="62" /></a></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Hal ini karena orang-orang dengan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, baik laki maupun perempuan, harus sama, mereka tidak boleh berbeda. Imam Junayd menceritakan salah seorang guru, seorang manusia dengan </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, Abu Musa Al Kumasi. Pada satu hari Imam Junayd mengisahkan bahwa Abu Musa dan istrinya sedang berada di rumah dan seluruh bangunan rumah roboh menimpa mereka. Teman-teman mereka menggali dan mereka mendapati sang syehkh yang mengatakan “Tinggalkan aku! Carilah istriku!“ Mereka menggali lagi dan akhirnya mereka menemukannya. Si istri berkata “Jangan pedulikan aku! Tinggalkan aku dan carilah Syech Abu Musa!” Kepedulian ini harus merupakan kepedulian timbal balik dari kedua pihak.</span></span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Oleh karena itu, puncak </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span><em> </em>ialah dampak tertinggi petunjuk yang benar. Ini merupakan ilmu tertinggi karena </span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> berarti bahwa kekasih harus mematuhi keinginan Yang Dikasihi. Sekali lagi, dalam pandangan Imam Junayd yang merupakan Imam para sufi, yang dikemukakan ketika Abu Hafs itu ada di dekatnya, yang merupakan seorang sufi besar dan sangat dimuliakan dalam kitab </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Kashf al Mahjub Hujwiri</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">.<br />
Imam Junayd memberikan definisi tentang </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> dan dia memandang Abu Hafs dan berkata, “Abu Hafs, apa menurutmu?“ Abu Hafs mengatakan, “</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> ialah bahwa engkau memberikan keadilan dan tidak pernah mengharapkannya.“ Imam Junayd berkata, “Itulah jawaban terbaik.“</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Suatu hari Abu Husayn an-Nuri mengunjungi </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>halaqah </em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Imam Junayd - di sana terdapat pertemuan para sufi yang sangat penting tempat mereka berlomba-lomba untuk mendapatkan yang terbaik dan<br />
termurni tentang ungkapan dan rasa cinta akan Allah subhaanahu wa ta’ala.  Dan Abu Husayn berkata, “Aku diberitahu bahwa engkau dapat memberi wacana dalam setiap masalah. Ceritakan kepadaku tentang<br />
pilihanmu dan aku pada giliranku akan menambah bukti lain.” Imam Junayd berkata. “Tentang apa engkau ingin aku bicara?”</span> An Nuri berkata, “Tentang cinta.“ </span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Juna</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">yd berujar, “Aku akan menceritakan sebuah kisah. Teman-temanku dan aku berada dalam sebuah kebun buah-buahan. Salah satu di antara kami mengambil beberapa buah dan kembali lagi lalu kami pergi menuju teras si petani untuk melihat-lihat mereka dan kemudian kami melihat ada seorang buta yang ditemani seorang pemuda ganteng. Tiba-tiba kami mendengar si buta berkata : ‘Engkau telah memerintahkan aku<br />
melakukan ini dan itu dan aku laksanakan perintahmu. Engkau melarangku berbuat begini dan begitu dan aku tidak melakukan itu semua. Aku tidak pernah mengingkari perintahmu sekali pun, apa lagi<br />
yang engkau inginkan dariku?’ </span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Si pemuda menjawab, ‘Matilah engkau.’ Si buta berkata, ‘Baik. Aku akan mati.’ Dia menelentangkan badan di tanah dan menutupi mukanya.“ </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Junaydi melanjutkan, “Aku katakan pada sahabat-sahabatku, ’Si buta tentu saja tampak tidak lagi bernyawa tetapi tentu saja tidak mati. Dia hanya tampak mati.’ Lalu kami mendatanginya dan memeriksanya dan memastikan bahwa dia memang benar-benar sudah meninggal.” An-Nuri<br />
bangkit dan meninggalkan tempat  tanpa tambahan sepatah kata pun.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><strong>Agar Terus Berubah</strong></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Fuqara</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> berdoa agar mereka  selalu berada dalam perubahan. Doa para sufi ialah, “Ya Allah, jagalah aku dalam perubahan.”  Pelihara aku tetap dalam perubahan karena segala hal selalu berubah dan setiap<br />
hari Allah selalu dalam penciptaan baru.  Kita harus memperbarui dan memperbarui diri. Kita harus selalu dalam perubahan. Kita harus ingat bahwa </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fuqara</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> merupakan golongan yang tertinggi. Kita harus selalu berkumpul dengan yang lain. Kita harus bepergian ke tempat mana pun. Kita harus menjadi tauladan bagi mereka dan mengambil mereka sebagai tauladan ketika kita berjumpa dengan orang yang berkualitas. </span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Carilah orang-orang yang memiliki pengetahuan, carilah orang-orang yang mencintai Allah subhaanahu wa ta’ala dan orang-orang dengan cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Untuk mengambil adab mulia kita harus menemui mereka yang beradab mulia, orang-orang yang memiliki pengetahuan. Dengan cara berkumpul bersama kita akan dimurnikan. Tasawuf berarti berkelompok selalu,  kemudian tasawuf adalah mendengarkan, kemudian tasawuf adalah bertindak sesuai dengan apa yang kita dengar.</span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Hanya ada satu musuh dan itu diri kita sendiri. Nafs tidak memiliki kebaikan sedikit pun di dalamnya. Hal-hal terburuk bagi para sufi ialah pengenalan akan kualitas baik mereka sendiri dan mengingkari kebaikan orang lain - inilah yang akan menarik mundur mereka dan menghancurkan perjalanan menuju takdir. Kita tidak boleh melihat kebaikan yang ada pada diri kita, kita harus menganggapnya sebagai sesuatu yang  dengan diri mereka sendiri lenyap oleh kesadaran kita  tentang kualitas itu. Kita tidak melihat diri kita sendiri.</span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Jangan kita mencari kesalahan pada orang lain. Carilah kesalahan pada diri kita sendiri. Kita harus memandang diri kita sendiri dan bertanya, “Apa yang salah dengannya?” Harist al Muhasibi  telah menghabiskan<br />
hari-harinya, melewati jam-jamnya dan menit-menitnya dan kemudian menghabiskan nafasnya dan kemudian dia meyakini bahwa itu menyenangkan Allah, bahwa itu diterima oleh Allah.  Dua ulama besar<br />
bertemu di Baghdad, di sana  mereka beradu argumen dan bertikai satu dengan yang lain. Pada akhirnya satu di antara mereka berkata,”Mari kita bertemu lagi besok  dan membahas masalah ini lebih lanjut dan<br />
yang lain mengatakan, “Tidak, mari kita bertemu besok dan berdamai lalu melupakan semua perdebatan ini.” Inilah jalan kaum Sufi - memulai lagi. Kita tidak boleh membatasi diri pada pemaafan  atas<br />
kesalahan orang lain tetapi kita tidak boleh mengukur  yang ada dalam diri sendiri. Setiap kesadaran akan diri sendiri akan menyesatkan. Kita harus berpaling dari nafsu dan cara berpaling dari nafsu bukan<br />
merupakan metode psikologi tetapi </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>dzikrullah</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="RIGHT">
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Ar Rad 28 </span><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_72b05466.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-198" title="futuwwa_htm_72b05466" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_72b05466.jpg" alt="" width="104" height="72" /></a><a href="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m41d2ee90.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-202" title="futuwwa_htm_m41d2ee90" src="http://bmnusantara.org/wp-content/uploads/2011/06/futuwwa_htm_m41d2ee90.jpg" alt="" width="169" height="72" /></a></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY">“<span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">.” Kita harus berdzikir kepada Allah. Kita harus mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Kita harus mohon kepada Allah. Kita tidak boleh berada di kalangan orang-orang yang tidak mencintai Allah. Kita harus berada bersama dengan mereka yang mencintai Allah, kita memerlukan mereka. Kita memerlukan orang-orang yang beserta dengan Allah karena mereka akan mengingatkan kita akan Allah. Kita memerlukan orang-orang yang berpengetahuan karena kita akan menjadi kuat dalam Dien dan kita akan menjadi benar dalam Dien ketika setiap<br />
mesjid punya  cara berbeda dalam beribadah.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Kita harus berkata yang baik-baik tentang orang lain dan berprasangka baik terhadap orang. Kita harus menjadi orang-orang yang ber-</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, kita harus menjadi orang-orang yang dibicarakan karena  memiliki hikmah yang berskala universal sehingga ketika kita mengunjungi Ka’bah, dengan segenap kesulitan di sana, kita harus mencari hamba-hamba Allah di sana dan duduk bersama mereka.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Waspadalah terhadap hamba-hamba dunia. Waspadalah terhadap hamba-hamba dunia sampai diri kita selamat dan saat kita selamat tidak ada kaitannya dengan tempat kita berada.   Kita harus memiliki  takwa dan harus bersikap </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>wara’</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">. Kita harus berhati-hati, waspada hingga  kita berada di </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>siratal mustaqim</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> karena ketika ada yang tidak beres kita harus ingat bahwa semua yang kita dapatkan kembali kepada Allah subhaanahu wa ta’ala.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Ingat, bahkan taubat tidak ada kaitan dengan kita – ini karena Allah menentukan untuk kita taubat ini karena Dia menginginkan, sehingga sekalipun kita telah bertaubat tetap bukan milik kita, bukanlah prestasi kita. Permintaan maaf kita bukanlah prestasi baik kita, ini sekadar tuntutan Allah kepada kita dan pengakuan bahwa Allah menyuruh kita. Kita ini milik Allah.</span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="sv-SE" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;">Kita berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Inilah yang harus kita katakan pada diri kita. Kita tidak boleh terpesona oleh dunia. Ingat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengisyaratkan bahwa sekeping logam pada orang miskin  sama bahayanya dengan sebongkah emas pada orang kaya, sehingga kita harus bersikap murah hati. Untuk bermurah hati jalannya mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kita harus bermurah hati, kita harus berprasangka baik terhadap orang lain, kita tidak boleh mengatakan hal-hal yang buruk tentang orang lain dan jika kita melakukannya maka kita harus bertaubat dan<br />
membersihkannya dan kita harus minta maaf. Jika seseorang menentang kita habis-habisan dan benar-benar dalam kesalahan kita harus memaafkannya dan harus melupakannya dan kita harus bertaubat dan<br />
memperbaiki diri. Beginilah cara Dien selalu diamalkan. Beginilah orang-orang mulia jaman dahulu menjalani hidup mereka.</span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Sekadar mengingatkan diri kita, lihat </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>futuwwa</em></span><em> </em>dalam organisasi orang-orang yang menamakan diri mereka </span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>al Fatah</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> yang mencoba mendinamit pemuda-pemuda musuh dan menghadapi mereka ketika penduduk menentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, menyingkirkan para pemuda sehingga mereka dapat berjuang </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>fi sabilillah</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">, berjuang demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Dengan demikian Dien harus dimulai kembali dalam segala hal. Kitalah orang yang harus memulai dan di benua ini harus dimulai. Hal ini berasal dari penduduk dan anak-anak kita, kita harus memiliki adab terhadap mereka, kita harus memperlakukan mereka dengan kehangatan. Kita harus memperlakukan anak-anak kita, pemuda dan orang tua dengan sopan santun,</span></span><span style="color: #ff9900;"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> </span></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">kita harus menjadi orang beradab dan jika kita menjadi orang beradab kita akan selamat. Jika kita menjadi orang beradab kita akan menjadi sufi. </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>Attariqa kulluha adab.</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> Tarekat tidak lain adalah adab- semuanya adalah adab.</span></span></p>
<p><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Kita juga harus memiliki rasa hormat terhadap diri sendiri. Rasa hormat terhadap diri sendiri akan terwujud hanya jika semua orang di sekitar kita merasa tenang dan dalam keadaan harmonis dengan kita dan merasa senang kita ada di sana. Seperti inilah kita seharusnya. Kita harus menjadi berkah untuk alam semesta, untuk semua orang. Kita harus menjadi orang yang ketika memasuki sebuah  ruang semua merasa senang karena cinta kita kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, cinta kita kepada Allah subhaanahu wa ta’ala dan karena lidah kita selalu menyebut Allah dan bukan remeh temeh dunia. Peristiwa dunia pasti</span> <span lang="sv-SE"> terjadi. Segala strategi dan keruntuhannya tidak akan menggoyahkan telinga kita, semuanya selalu terjadi dan akan terus terjadi. Pada saat </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>ashabul Kahfi</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> keluar, mereka berhadapan kembali dengan dunia dan segala persoalan dan semua kesulitan tetapi Allah mencintai orang-orang yang memiliki </span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>tawhid</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"> dan mencintai orang-orang yang mencintai-Nya dan ini merupakan kelompok, jamaah kaum Sufi.</span></span></p>
<p class="western" style="margin-top: 0.08in; line-height: 150%" lang="en-GB" align="JUSTIFY"><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar memberi dalam kehidupan kita jamaah para sufi. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar tasawuf tumbuh dan berkembang di mana saja bagian dunia yang kita datangi. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar kita lebih memilih jamaah orang-orang yang hanya menginginkan Allah dibanding yang lain dan berilah kita keuntungan di dunia ini. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala agar menjadikan diri kita siap menghadapi ujian yang datang sehingga mampu mengatasinya</span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE"><em>. Alhamdulillahi ala kulli hal</em></span></span><span style="font-family: Arial,sans-serif;"><span lang="sv-SE">. Kita memohon kepada Allah subhaanahu wa ta’ala untuk memberi rahmat para imam serta para penjaganya dan semoga tetap menjadi saksi bagi Islam sebagaimana terjadi pada masa-masa sulit dahulu. Amien.</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2011/06/194/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sehari Bersama Dhuafa CIlincing</title>
		<link>http://bmnusantara.org/2011/05/sehari-bersama-dhuafa-cilincing/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2011/05/sehari-bersama-dhuafa-cilincing/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 May 2011 03:12:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Zakat]]></category>

		<category><![CDATA[dhuafa]]></category>

		<category><![CDATA[Dinar Emas]]></category>

		<category><![CDATA[Dirham]]></category>

		<category><![CDATA[Dirham Perak]]></category>

		<category><![CDATA[koin dinar]]></category>

		<category><![CDATA[Koin Dirham]]></category>

		<category><![CDATA[zona dinar dirham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara, merupakan Zona Dinar Dirham. Kembali  zakat Dirham akan dibagikan.
Di  dunia ini barangkali baru di kampung nelayan inilah koin Dirham perak  khususnya berputar paling &#8220;rutin&#8221;. Maklum di sana tak kurang dari 75  kedai, termasuk bengkel las dan jasa  tambal ban, telah menerima  pembayaran dengan dirham [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><span class="Head04">Kampung Nelayan Cilincing, Jakarta Utara, merupakan Zona Dinar Dirham. Kembali  zakat Dirham akan dibagikan.</span></p>
<p><span class="pDetail"><img src="http://wakalanusantara.com/images_content/insideZakatNelayan01.jpg" alt="" align="left" />Di  dunia ini barangkali baru di kampung nelayan inilah koin Dirham perak  khususnya berputar paling &#8220;rutin&#8221;. Maklum di sana tak kurang dari 75  kedai, termasuk bengkel las dan jasa  tambal ban, telah menerima  pembayaran dengan dirham perak sejak hampir dua tahun lalu. Pak Sufyan  al Jawi, penggerak masyarakat di sana, menyebutnya sebagai &#8220;Zona  Dirham&#8221;.</p>
<p>Akhir pekan ini, untuk  ke sekian kalinya, kembali akan diadakan  sebuah kegiatan - untuk terus menjaga  kegiatan yang telah berlangsung  di sana. Beberapa waktu lalu telah dibuat acara &#8220;Cilincing Shopping  Day&#8221;, ketika serombongan pengunjung datang ke kampung Cilincing, untuk  melihat dan membelanjakan dirhamnya.</p>
<p>Sabtu, 21 Mei 2011,  sebuah acara pun digagas sengan tajuk   &#8220;Sehari Bersama Dhuafa Hidupkan Kembali Muamalat &#8216;Amal Madinah&#8221;.  Acaranya sederhana saja, umat Islam kembali diudang untuk hadir ke  Cilincing, dan berbelanja dengan Dirhamnya.  Sementara dari tim Wakala  Induk Nusantara (WIN) juga akan berkeliling dari warung ke warung, untuk  memberikan tausiyah kepada para pedagang tentang muamalat.  Salah  satunya adalah dengan para pengelola &#8220;Ana Mart&#8221;, sebuah toserba di sana.  Kegiaan kemudian  juga akan dilanjutkan ke Koja, peresmian wakaf  &#8220;Istana Dhuafa&#8221;, yang dikelola oleh para pemuda Muslim setempat.</p>
<p>Dalam kesempatan ini, dari Baitul Mal Nusantara (BMN), akan  kembali dibagikan zakat mal. Kali ini sebanyak 100 koin nisfu Dirham.</p>
<p><em>&#8220;Allah melimpahkan dan menyempitkan rezeki kepada siapa pun yang IA kehendaki.&#8221;</em></p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2011/05/sehari-bersama-dhuafa-cilincing/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jelang FHP Bogor, 350 Dirham Dibagikan</title>
		<link>http://bmnusantara.org/2011/04/jelang-fhp-bogor-350-dirham-dibagikan/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2011/04/jelang-fhp-bogor-350-dirham-dibagikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 Apr 2011 03:10:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=190</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang FHP di Zawiyatul Abror, Kotaparis, Bogor,  350 Dirham sedekah dibagikan ke dhuafa dan yatim.
Waktu  ba&#8217;da zuhur, sekitar pukul  13.30, Jum&#8217;at, 15 April 2011,  warga  masyarakat sekitar Madrasah Zawiyatul Abror, Kotaparis, Bogor, serta  anak-anak yatim yang kebanyakan juga murid di madrasah ini, mulai  memenuhi ruang majelis taklim. Mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><span class="Head04">Menjelang FHP di Zawiyatul Abror, Kotaparis, Bogor,  350 Dirham sedekah dibagikan ke dhuafa dan yatim.</span></p>
<p><span class="pDetail"><img src="http://wakalanusantara.com/images_content/insideCeramahBogor01.jpg" alt="" align="left" />Waktu  ba&#8217;da zuhur, sekitar pukul  13.30, Jum&#8217;at, 15 April 2011,  warga  masyarakat sekitar Madrasah Zawiyatul Abror, Kotaparis, Bogor, serta  anak-anak yatim yang kebanyakan juga murid di madrasah ini, mulai  memenuhi ruang majelis taklim. Mereka hadir untuk mendengarkan  penjelasan tentang Dinar dan Dirham, serta persiapan penyelenggaraan  Festival Hari Pasaran, yang akan berlangsung besok, Selasa, 19 April  2011, mulai jam 9.00 pagi. Di antara hadirin, tentu saja, ada para  pedagang  yang akan ikut dalam FHP yang baru untuk pertama kalinya ini  diadakan di Bogor.</p>
<p>Selain penjelasan umum dari Bpk Zaim Saidi, yang mewakli WIN,  para hadirin mendapatkan pemaparan seputar penggunaan Dinar dan Dirham  sejak masa Nabi SAW dari Pak Sufyan al Jawi, al Wakil Wakala Keluarga  Madani, serta dari Bpk Ikhsan Basha, Wakil Ketua Paguyuban Jawara. Meski  banyak di antara peserta adalah orang-orang yang cukup lanjut usia,  wajah mereka menunjukkan pemahaman  tentang muslihat uang kertas dan  perlunya kembali ke Dinar dan Dirham.</p>
<p><img src="http://wakalanusantara.com/images_content/insideCeramahBogor02.jpg" alt="" align="right" />Pemaparan  juga diberikan oleh Ibu Ida Priyatna, al Wakil Wakala Az Zahra, yang   merupakan penggerak FHP Bogor ini,  dengan menyatakan manfaat Dinar dan  Dirham dalam menyelamatkan perekonomiam masyarakat. <em>&#8220;Di tengah kita  ini juga bekerja  para perampok yang tidak bisa ditangkap polisi. Setiap  hari harta kita dicuri oleh perampok ini, yang namanya inflasi,&#8221;</em> ujarnya. Dengan kembali menggunakan Dinar dan Dirham, selain sebagai  bukti kecintaan kita kepada Rasulullah SAW, kita dapat  mencegah  pencurian terselubung tersebut.</p>
<p>Sebagai bentuk rasa syukur mereka,  Wakala Azzahra, menjelang FHP  I Bogor  itu, juga telah menitipkan 350 Dirham sedekah untuk dibagikan  kepada kaum dhuafa dan yatim piatu sekitar Kotaparis, Bogor. Dengan  adanya FHP Bogor, Selasa besok, kaum dhuafa dan para  yatim ini dapat  membelanjakan Dirham mereka untuk kebutuhan sehari-hari.</p>
<p><img src="http://wakalanusantara.com/images_content/insideCeramahBogor03.jpg" alt="" align="left" />Semoga  Allah SWT memberkahi keluarga besar Wakala Azzahra, melapangkan rezeki   mereka, dan merahmati keluarga ini. Semoga Allah SWT memberkahi  kaum  dhuafa dan yatim, serta para pedagang yang akan bertransaksi menggunakan  Dirham perak, di FHP besok.</p>
<p></span>(001)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2011/04/jelang-fhp-bogor-350-dirham-dibagikan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Rancang Bangun Awal Baitul Makmur</title>
		<link>http://bmnusantara.org/2011/02/rancang-bangun-awal-baitul-makmur/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2011/02/rancang-bangun-awal-baitul-makmur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Jan 2011 18:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Wakaf]]></category>

		<category><![CDATA[Baitul Makmur]]></category>

		<category><![CDATA[Imarah]]></category>

		<category><![CDATA[Imaret]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=184</guid>
		<description><![CDATA[Untuk memulai pengembangan Imarah Baitul Mal Nusantara akan membangun Baitul Makmur. Desain awalnya telah siap.
Dalam  rangka mengembangkan peningkatan kesejahteraan umat yang sesuai dengan  sunnah Rasul , sallalahu alayhi wa sallam, BMN akan membangun Imarah.  Sebagai tahap awal  akan dibangun sebuah wakaf terpadu dengan  nama Baitul Makmur.
Secara keseluruhan, Kawasan  Baitul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><span class="Head04">Untuk memulai pengembangan Imarah Baitul Mal Nusantara akan membangun Baitul Makmur. Desain awalnya telah siap.</span></p>
<p><span class="pDetail"><img src="http://wakalanusantara.com/images_content/insideBM01.jpg" alt="" align="right" />Dalam  rangka mengembangkan peningkatan kesejahteraan umat yang sesuai dengan  sunnah Rasul , sallalahu alayhi wa sallam, BMN akan membangun Imarah.  Sebagai tahap awal  akan dibangun sebuah wakaf terpadu dengan  nama <strong>Baitul Makmur</strong>.</p>
<p>Secara keseluruhan, <strong>Kawasan  Baitul Makmur</strong> dicanangkan  dalam  kawasan yang dikembangkan dalam radius 2 km dari posisi kantor  BMN saat ini, yaitu di kawasan Tanah Baru, Beji, Depok. Tahap pertama  dari pengembangan kawasan Baitul Makmur adalah sebuah Bangunan Wakaf  Terpadu yang terdiri atas:</p>
<ol>
<li>Rumah Singgah (Guest House)</li>
<li>Rumah Sewa</li>
<li>Kantor Ribat Indonesa</li>
<li>Ruang Perpustakaan Malik Ibn Anas</li>
<li>Ruang Zawiyah/Majelis Ta&#8217;lim</li>
</ol>
<p>Kawasan ini akan dibangun di Jl. Mandor Ety, Tanah Baru, di atas lahan  seluar sekitar 400 m2, wakaf dari Bpk Hariyadi Hasyim. Di dalam kawasan  Baitul Makmur dicita-citakan dapat dibangun kawasan komersial lain,  serta sebuah pasar umum, bagi masyarakat untuk berdagang tanpa dipungut  sewa dan  pajak.</p>
<p><img src="http://wakalanusantara.com/images_content/insideBM02.jpg" alt="" align="right" />Rancang  bangun awal banguna pertama Baitul Makmur telah tersedia. Utamanya akan  terdiri atas beberapa rumah tinggal untuk disewakan dan sejumlah  fasilitas sosial sebagaimana di sebut di atas.</p>
<p>Secara keseluruhan, pengembangan Imarah ini tentu memerlukan biaya yang  cukup besar. Karenanya peran serta seluruh umat Islam di Indonesaia  sangatlah diharapkan. Saat ini BMN telah menerima wakaf  total sekitar  47 Dinar. Sementara biaya yang dibutuhkan untuk pembangnan tahap awal  diperkirakan sekitar 500 Dinar emas.</p>
<p>Untuk mendukung Wakaf Imarah dapat dilakukan dengan  cara:</p>
<ol>
<li>Mewakafkan tanah-tanah sebagai lahan untuk Imarah atau bagian darinya.</li>
<li>Menyedekahkan  wakaf tunai untuk biaya pembelian lahan dan sarana lain dalam Imarah,  melalui: Rekening No 067.008.4439 Bank Syairah Mandiri, Cabang Margonda,  Depok, a.n Amal Nusantara.</li>
<li>Menyedekahkan wakaf tunai berupa Dinar emas atau Dirham perak ke: Baitul Mal Nusantara (BMN).</li>
<li>Memberitahukan  kewajiban zakat yang jatuh tempo kepada BMN untuk ditarik dan  didistribusikan kepada fakir miskin di sekitar pasar-pasar yang  berlangsung saat ini sebagai cikal bakal Imarah</li>
</ol>
<p>Sekretariat:<br />
<strong> Baitul Mal Nusantara (BMN)</strong><br />
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04.  Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.<br />
Telp. 775 2699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.<br />
web: www.bmnusantara.org dan www.jawaradinar.com </span>(001)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2011/02/rancang-bangun-awal-baitul-makmur/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wakaf untuk Imaret Terus Bertambah</title>
		<link>http://bmnusantara.org/2011/01/wakaf-untuk-imaret-terus-bertambah/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2011/01/wakaf-untuk-imaret-terus-bertambah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Jan 2011 05:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Wakaf]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Dalam periode November-Desember BMN menerima tambahan wakaf dan sedekah 1 Dinar dan 51 Dirham.
Sedikit demi sedikit pengumpulan wakaf  untuk proyek  Imaret oleh Baitul Mal Nusantara (BMN) terus bertambah.  Dalam dua bulan terakhir, yakni November dan Desember 2010, BMN telah  menerima wakaf tunai sebesar 1 Dinar emas dari Bapak Tengku Shahindra.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Head04">Dalam periode November-Desember BMN menerima tambahan wakaf dan sedekah 1 Dinar dan 51 Dirham.</span></p>
<p><span class="pDetail">Sedikit demi sedikit pengumpulan wakaf  untuk proyek  Imaret oleh Baitul Mal Nusantara (BMN) terus bertambah.  Dalam dua bulan terakhir, yakni November dan Desember 2010, BMN telah  menerima wakaf tunai sebesar 1 Dinar emas dari Bapak Tengku Shahindra.  Selain itu, ada sejumlah wakif, yang sebagian adalah wakif rutin  berwakaf Dirham. Antara lain Pak Marsono Abdurrasyid berwakaf 12 Dirham,  selain bersedekah untuk kegiatan BMN lain sebanyak 8 Dirham.  Lalu ada  ibu Erlina Noerpitasari berwakaf 10 Dirham di bulan November.  Pak Yan  Radiyto, wakif rutin BMN, kembali berwakaf sebanyak 10 Dirham Desember  lalu.</p>
<p>Ada beberapa wakif lagi yang tak mau disebut namanya. Untuk bulan ini  ada  tambahan dari kotak amal, baik yang ada di salah satu FHP maupun  yang ada di ruang tamu WIN, totalnya sebanyak 6 Dirham 1 daniq (6.16  Dirham). Selain itu ada sedekah dan wakaf yang masih berupa rupiah, yang  nanti akan diujudkan dalam emas atau perak.</p>
<p>Dengan tambahan wakaf dan sedekah di bulan November dan Desember 2010,  sesudah dikurangi beberapa pengeluaran kecil yang sifatnya rutin, saldo  wakaf di BMN saat ini adalah 39 Dinar, 221.16 Dirham, Rp 1.048.395, dan 7  gr emas. Sedangkan sedekah rutin pada kas BMN saat ini adalah    1  Dinar, Rp 4.450.900, dan 27 Dirham. Lihat selengkapnya di Tabel 1.</p>
<p><span> Tabel 1.  Posisi Kas BMN Pada Akhir Desember 2010 </span><img src="http://wakalanusantara.com/images_content/bmndes2010.png" alt="" /></p>
<p><strong>Tentang Imarah</p>
<p></strong>Imarah  adalah &#8216;Kawasan Terpadu&#8217; yang menyatukan kegiatan keagamaan dan kesejahteraan umum, yang ditopang oleh pendanaan dari aktivitas komersial yang tak terpisahkan darinya. Di dalam sebuah Imarah - atau dalam tradisi Utsmani disebut sebagai Imaret - kita menemukan beragam fasilitas untuk keperluan ibadah, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, pemakaman, taman-taman kota, serta pemukiman.</p>
<p>Istilah Imaret sendiri berasal dari bahasa Arab &#8216;imara, yang artinya pendirian. Kata ta&#8217;mir, yang di Indonesia lazim dipakai untuk istilah ta&#8217;mir masjid, berasal dari akar kata yang sama, &#8216;-m-r dan menghasilkan kata &#8216;amr - hidup - dan isti&#8217;mar - mendirikan di atas tanah (pembangunan). Kata di atas digunakan dalam ayat al-Qur&#8217;an (11:61), &#8220;<em>Sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya</em>&#8220;.</p>
<p>Kata Imaret juga berarti tindakan pengembangan suatu daerah, dapat disepadankan dengan pengertian Pembangunan Islam. Di dalamnya bisa kita dirikan masjid, madrasah dengan pelbagai jenis dan tingkat, wisma penginapan, dapur umum bagi kaum miskin dan para musafir, klinik-klinik, penampungan anak yatim, perpustakaan, instalasi air, bahkan tanah pemakaman, pabrik roti, taman dan kolam renang, bengkel, toko-toko, rumah zakat dan sebagainya.</p>
<p>Satu bagian penting dari Imaret  adalah Karavanseri, atau <em>rest area</em>, tempat para pedagang dan musafir lain beristirahat dan tinggal sementara. Menyatu dan menjadi bagian tak terpisahkan darinya adalah bangunan-bangunan komersial terutama pasar (suq), bazar-bazar, pergudangan, pertokoan, pabrik-pabrik skala kecil dan menengah, bengkel, restoran, apotek, hotel, sarana penyembelihan hewan, kebun produktif, dan sebagainya, sebagai arena bisnis.</p>
<p>Sebagian besar atau seluruh pendapatan dari kegiatan komersial ini sepenuhnya dikembalikan dan digunakan untuk membiayai berbagai layanan sosial yang diberikan kepada publik.</p>
<p><strong>Tentang Garnissun Bangsa</p>
<p></strong></p>
<p align="JUSTIFY">Garnissun Bangsa adalah gerakan &#8216;amal kebajikan untuk  memperkuat ketahanan  ekonomi masyarakat  berupa  infak dan sedekah.  Infak dan sedekah yang dimobilisasi oleh GARNISSUN BANGSA adalah koin-koin Dirham perak yang dapat diserahkan baik langsung kepada fakir miskin, masjid dan musholla di lingkungan terdekat, rumah-rumah yatim piatu, panti jompo, pondok pesantren,    maupun kepada lembaga-lembaga infak dan sedekah, serta derma dan sosial yang dipercaya.</p>
<p>Umat Islam yang ingin berwakaf atau sedekah melalui BMN, silakan:</p>
<p>Transfer ke Rek Bank Syari&#8217;ah Mandiri 067.008.4439, Capem Margonda Depok, a.n Amal Nusantara untuk dikonversi ke Dirham/Dinar. atau langsung diserahkan ke:</p>
<p><strong> Baitul Mal Nusantara (BMN) </strong><br />
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04.  Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.<br />
Telp. 7756071�7752699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.</p>
<p></span>(001)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2011/01/wakaf-untuk-imaret-terus-bertambah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Lagi, BMN Bagikan Zakat 219 Dirham Lebih</title>
		<link>http://bmnusantara.org/2011/01/lagi-bmn-bagikan-zakat-219-dirham-lebih/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2011/01/lagi-bmn-bagikan-zakat-219-dirham-lebih/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Jan 2011 05:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[Dalam periode November-Desember 2010 ratusan mustahik di Jogya, Banten dan Jakarta menerima zakat lewat  Bitul Mal Nusantara.
Upaya penarikan dan pembagian zakat mal  terus dilakukan oleh Amirat Indonesia dan dibagikan lewat Baitul Mal  Nusantara. Seperti biasa pembagian zakat dijalankan berbarengan dengan  Festival Hari Pasaran, hingga para mustahik dapat memanfaatkan uang  mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><span class="Head04">Dalam periode November-Desember 2010 ratusan mustahik di Jogya, Banten dan Jakarta menerima zakat lewat  Bitul Mal Nusantara.</span></p>
<p><span class="pDetail">Upaya penarikan dan pembagian zakat mal  terus dilakukan oleh Amirat Indonesia dan dibagikan lewat Baitul Mal  Nusantara. Seperti biasa pembagian zakat dijalankan berbarengan dengan  Festival Hari Pasaran, hingga para mustahik dapat memanfaatkan uang  mereka sesuai kebutuhan. Dalam periode November-Desember lalu masih ada  sebagian zakat mal yang dititipkan oleh Dompet Dhuafa Republika,  sebanyak 150 Dirham.</span></p>
<div>
<table class="MsoNormalTable" style="width: 249.2pt; margin-left: 4.65pt; border-collapse: collapse;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="249">
<tbody>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Perolehan</span></p>
</td>
<td style="width: 61pt; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Dinar</span></p>
</td>
<td style="width: 48pt; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Dirham</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; border-top: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">1</span></p>
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Saldo Oktober/Nov</span></p>
</td>
<td style="width: 61pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">5.5</span></p>
</td>
<td style="width: 48pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">118.66</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; border-top: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">2</span></p>
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Dari Dompet Dhuafa</span></p>
</td>
<td style="width: 61pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 48pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">150</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; border-top: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 61pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 48pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; border-top: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 61pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">5.5</span></p>
</td>
<td style="width: 48pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">268.66</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; border-top: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Pembagian</span></p>
</td>
<td style="width: 61pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 48pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; border-top: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">1</span></p>
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Mustahik Karanganyar</span></p>
</td>
<td style="width: 61pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 48pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">100</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; border-top: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">2</span></p>
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Mustahik Serang</span></p>
</td>
<td style="width: 61pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 48pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">25</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; border-top: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">3</span></p>
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Mustahik Koja</span></p>
</td>
<td style="width: 61pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom"></td>
<td style="width: 48pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">90.66</span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height: 15pt;">
<td style="width: 23pt; border-top: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="23" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">3</span></p>
</td>
<td style="width: 117.2pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="117" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">Amilin</span></p>
</td>
<td style="width: 61pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="61" valign="bottom">
<p class="MsoNormal">
</td>
<td style="width: 48pt; border-top: medium none; border-left: medium none; background: none repeat scroll 0% 0% yellow; height: 15pt;" width="48" valign="bottom">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 11pt; font-family: Calibri; color: black;">4</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div>Total zakat yang dibagian apda periode ini adalah hampir 220 Dirham  (219.66 Dirham). Sebagian besar dibagikan di Kampung Karanganyar,  Jogyakarta (100 Dirham). Sebagian yang lain dibagikan di kampung sekitar  Masjid Agung Serang, Banten, sebanyak 25 Dirham, dan sebanyak 90.6 (90  Dirham 4 Daniq) dibagikan di Kampung Koja, Kelurahan Semper, Jakarta  Utara. Jmlah mustahik yang menerimanya lebih dari 300 orang, dengan  kisaran 0.5 � 2 Dirham/mustahik. Lalu ada 4 Dirham diberikan kepada para  petugas zakat yang ditunjuk Amir Indonesia untuk melaksanakan  penarikan/pembagian di lapangan.</p>
<p>Saat ini masih ada saldo zakat mal di BMN sebanyak 5.5 Dinar dan 49,1  Dirham, yang akan dibagikan segera di berbagai tempat. Bagi kaum Muslim  yang mengetahui hartanya telah jatuh nisab ( 20 untuk Dinar dan  200  untuk Dirham) dan haulnya (setahun penuh), hingga berkewajiban  membayarkan zakatnya, harap menghubungi:</p>
<p>Bapak Abdarahman Rachadi<br />
Baitul Mal Nusantara<br />
Jl. M Ali No 2<br />
Tanah Baru - Depok<br />
Telpon 21-7752699<br />
E-mail : abdarrahman@wakalanusantara.com</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2011/01/lagi-bmn-bagikan-zakat-219-dirham-lebih/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>13 Dirham Bebaskan Pak Jakim dari Rentenir</title>
		<link>http://bmnusantara.org/2010/12/13-dirham-bebaskan-pak-jakim-dari-rentenir/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2010/12/13-dirham-bebaskan-pak-jakim-dari-rentenir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Dec 2010 04:58:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=178</guid>
		<description><![CDATA[Dengan pinjaman dari Baitul Mal Nusantara Satu orang lagi terbebas dari rentenir.
Lima  belas tahun lalu Pak Jakim harus berhenti  dari tempat kerjanya, PT  Industri Sandang Senayan. Posisi terakhirnya adalah sebagai pembersih  mesin-mesin, satu posisi yang tidak terlalu tinggi. Barangkali setara  dengan seorang OB (Office Boy) saja.  Karena satu  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><span class="Head04">Dengan pinjaman dari Baitul Mal Nusantara Satu orang lagi terbebas dari rentenir.</span></p>
<p><span class="pDetail"><img src="http://wakalanusantara.com/images_content/insideJakim.jpg" alt="" align="left" />Lima  belas tahun lalu Pak Jakim harus berhenti  dari tempat kerjanya, PT  Industri Sandang Senayan. Posisi terakhirnya adalah sebagai pembersih  mesin-mesin, satu posisi yang tidak terlalu tinggi. Barangkali setara  dengan seorang OB (Office Boy) saja.  Karena satu  masalah, akhirnya   Pak Jakim termasuk dalam kelompok yang mengambil pensiun dini. Dengan  pesangon yang ia peroleh  ia pun pindah ke luar Jakarta, ke Tanah Baru,  Depok.</p>
<p>Untuk menghidupi keluarganya, dalam beberapa tahun terakhir ini, Pak  Jakim yang tak lagi muda  membuka warung kelontong seadanya. Untuk  menambah mata dagangan, di teras warungnya, ia juga menjual bensin  eceran.  Tentu, penghasilanya tidak menentu dan tak mencukupi, maka ia  jalani pula  sebuah kerja sambilan: mengangkut sampah di lingkungan RT  tempat ia tinggal. Maka, sepekan dua kali, ia bersama dua rekannya,  tampak berkeliling menyeret gerobak sampah.</p>
<p>Dan seperti lazimnya para pedagang  kecil seperti dirinya selalu  kekurangan modal: tiap-tiap kali hendak belanja uang tak mencukupi,  antara lain karena harga cenderung sudah naik. Ini akibat gerusan  inflasi, nilai rupiah terus merosot. Solusinya pun lazim: ia berpaling  ke rentenir. Tapi, semakin  hari berhubungan dengan rentenir justru  membuat hidupnya tambah susah. Dari setiap Rp 100 ribu yang ia pinjam,  ia harus mengembalikan Rp 120.000. Artinya bunganya adalah 20% hanya  untuk beberapa pekan.</p>
<p>Mendengar di Baitul Mal Nusantara (BMN) ada bantuan pinjaman modal,  Pak Jakim pun datang mengajukan pinjaman. Tanpa proses berbelit, kecuali   menandatangani perjanjian pinjam-meminjam, Pak Jakim mendapatkan   pinjaman 13 Dirham. Cukup untuk memenuhi kebutuhannya berbelanja untuk  warung mungilnya. Dengan meminjam ke BMN  maka  modal 13 Dirham itu  harus ia kembalikan sama jumlahnya, 13 Dirham, dalam waktu  enam bulan.</p>
<p>Dengan 13 Dirham itu seorang lagi, Pak Jakim yang kesehariannya  bekerja sebagai tukang sampahg dan engelola kios bensin eceran,   terbebas dari penindasan rentenir.</p>
<p>Bagi yang ingin membantu membebaskan kaum dhuafa dari rentenir, dapat menyalurkan sedekahnya melalui:</p>
<p>Transfer ke Rek Bank Syari&#8217;ah Mandiri 067.008.4439, Capem Margonda Depok, a.n Amal Nusantara untuk dikonversi ke Dirham/Dinar. atau langsung diserahkan ke:</p>
<p>Baitul Mal Nusantara (BMN)<br />
Jl. M Ali no 2 Rt 003/Rw 04.  Kel Tanah Baru - Kota Depok 16426.<br />
Telp. 7756071-7752699/email: abdarrahman@bmnusantara.org.</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2010/12/13-dirham-bebaskan-pak-jakim-dari-rentenir/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Koleksi Baru Perpustakaan BMN</title>
		<link>http://bmnusantara.org/2010/11/koleksi-baru-perpustakaan-bmn/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2010/11/koleksi-baru-perpustakaan-bmn/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Nov 2010 04:55:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Sedikit demi sedikit koleksi buku perpustakaan Baitul Mal Nusantara terus bertamba
Sejak awal Baitul Mal Nusantara ditubuhkan, salah satu kegiatan yang dirintis adalah pengembangan sebuah perpustakaan. Tentu, sifatnya bukan perpusatakaan umum, yang mengoleksi segala jenis buku.  Perpustakaan ini khususnya akan mengoleksi buku-buku Islam, dengan titik berat tema muamalat, atau ekonomi dan politik.

Meski masih kecil dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="Head04">Sedikit demi sedikit koleksi buku perpustakaan Baitul Mal Nusantara terus bertamba</span></p>
<p><span class="pDetail">Sejak awal Baitul Mal Nusantara ditubuhkan, salah satu kegiatan yang dirintis adalah pengembangan sebuah perpustakaan. Tentu, sifatnya bukan perpusatakaan umum, yang mengoleksi segala jenis buku.  Perpustakaan ini khususnya akan mengoleksi buku-buku Islam, dengan titik berat tema muamalat, atau ekonomi dan politik.</p>
<p style="text-align: center;"><img src="../wp-content/uploads/2008/11/lib01.jpg" alt="" align="none" /></p>
<p>Meski masih kecil dari segi jumlah koleksinya, baru sekitar 250 judul, banyak buku-buku yang di perpustakaan lain di Indonesia tak tersedia,  atau jarang tersedia, di perpustakaan BMN ada. Misalnya buku karya Ibnu Khaldun, <em>Muqadimah, </em>dalam versi bahasa Inggrisnya atau  bab al Buyu, dari kitab <em>Bidayat al Mujtahid</em> karya Ibnu Rushd, yang telah diterjemahkan (dalam bahasa Inggris) dan dikomentari oleh Dr Assadullah Yate. Demikian juga buku-buku karya Shaykh Dr Abdalqadir as Sufi, seperti <em>The Return of the Khalifat, Sultaniyyya, Muslim Prince, The Time of The Bedouin </em>(dengan nama Ian Dallas<em>), </em>dll.<em> </em></p>
<p>Dalam beberapa waktu terakhir sejumlah judul baru telah dikoleksi, khususnya yang berkaitan dengan tema mata uang,  muamalat, serta politik. Di  antaranya  adalah sbb:</p>
<ol>
<li>Singh, M.P (2007). 	<em>Town, Market, Mint and Port in The Mughal Empire</em> (1556-1707). 	Adam Publisher, New Delhi.</li>
<li>Pamuk, Sevket 	(2000). <em>A Monetary History of the Ottoman Empire</em>. Cambridge 	University Press, Australia.</li>
<li>Asreemoro (2008). 	<em>Tausug and the Sulu Sultanate</em>. Saba Islamic Media, Kuala 	Lumpur.</li>
<li>El Dewani, Tarek 	(2010). <em>Islamic Banking and Finance What It is and What it Could 	be.</em> LSTEthical, Bolton, United Kindom.</li>
<li>Meera, Ahamed 	Kameel Mydin (2010). <em>Perampok Bangsa Bangsa: Mengapa Emas Harus 	Jadi Mata Uang Internasional</em>. Mizan, Bandung.</li>
<li>Amalia, Euis 	(2010). <em>Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam: Dari Masa Klasik Hingga 	Kontemporer</em>. Gramata Publishing, Jakarta.</li>
<li>Maksudoglu, Mehmet 	(1999). <em>Osmanli History 1289-1922: Based on Osmanly Sources</em>. 	IIUM, Kuala Lumpur.</li>
<li>Sulaiman, Ibraheem 	(2009). <em>The African Caliphate: The Life, Works and Teaching of 	Shaykh Usman Dan Fodio (1754-1817).</em> The Diwan Press, London.</li>
<li>Wahyu, Amman N 	(alih aksara, 2005). <em>Sejarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan 	Gunung Jati (Naskah Mertasinga)</em>. Pustaka, Bandung.</li>
<li>Saidi, Zaim 	(2010). <em>Tidak Syar&#8217;inya Bank Syari&#8217;ah di Indonesia dan 	Solusinya Menuju Muamalat</em>. Delokomotif, Jogyakarta.</li>
<li>Mohamad, Nik 	Mahani (2010). <em>Rethinking the Islamic Financial System</em>. Saba 	Islamic Media, Kuala Lumpur.</li>
<li>Mohamad, Nik 	Mahani (2009). <em>Between Islamic Banking and The Golden Dinar</em>. 	Saba Islamic Media, Kuala Lumpur.</li>
<li>Sarkaniputra, 	Murasa (2009). <em>Ruqyah Syar&#8217;iyyah: Teori, Model, dan Sistem 	Ekonomi</em>. Al Ishlah Press, Cirebon.</li>
<li>Clarke, Abdassamad 	(ed, edisi revisi, 2010). <em>Banking the Root Cause of the 	Injustices of Our Time</em>. Diwan Press. London.</li>
<li>Gillot, Claude 	(2008). <em>Banten Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII</em>. KP 	Gramedia, Jakarta.</li>
<li>Dll</li>
</ol>
<p>Untuk  masyarakat yang ingin membaca buku-buku tersebut bisa datang ke perpustakaan BMN, di Jl. M Ali no 2, Tanah Baru, Beji, Depok, Jawa Barat, setiap hari kerja. Demikian juga yang ingin membantu pengadaan koleksi buku perpustakaan, dapat  menyumbangkan sedekahnya kepada BMN.</p>
<p></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2010/11/koleksi-baru-perpustakaan-bmn/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perkenalan Dinar Dirham pada Para Nazhir</title>
		<link>http://bmnusantara.org/2010/11/perkenalan-dinar-dirham-pada-para-nazhir/</link>
		<comments>http://bmnusantara.org/2010/11/perkenalan-dinar-dirham-pada-para-nazhir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Nov 2010 04:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bmnusantara.org/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[Kepada peserta pertemuan  Silaturahmi Nazhir Wakaf  disarankan agar menyimpan wakaf tunainya dalam Dinar dan Dirham.
Pada tanggal 7-8 November 2010 berlangsung  rapat  Silaturahmi dan Sosialisasi Nazhir Wakaf Uang yang  diselenggarkan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI). Tempatnya di Hotel  Seruni, Cisarua, Puncak.  Dalam pertemuan dua hari yang dihadiri lebih  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><span class="Head04">Kepada peserta pertemuan  Silaturahmi Nazhir Wakaf  disarankan agar menyimpan wakaf tunainya dalam Dinar dan Dirham.</span></p>
<p><span class="pDetail">Pada tanggal 7-8 November 2010 berlangsung  rapat  Silaturahmi dan Sosialisasi Nazhir Wakaf Uang yang  diselenggarkan oleh Badan Wakaf Indonesia (BWI). Tempatnya di Hotel  Seruni, Cisarua, Puncak.  Dalam pertemuan dua hari yang dihadiri lebih  dari 30 orang ini, pengurus BWI, yang langsung dipimpin oleh ketuanya,  K.H. Tolhah Hasan, mantan Menteri Agama RI era kepresidenan Gus Dur, BWI  memperkenalkan seluk beluk &#8216;wakaf uang&#8217;.</p>
<p>Ini semua sebagai konsekuensi dari adanya UU No 41 tahun 2004 tentang  Wakaf dan Peraturan Pemerintah No 42 tahun 2006 tentang Pelaksanaan UU  No 41 tahun 2004 tersebut. Menurut dua peraturan perundang-undangan ini  kini diperkenalkan suatu bentuk &#8216;wakaf uang&#8217;, di mana setiap orang dapat  berwakaf rupiah, yang disetorkan kepada suatu bank (syariah) yang telah  ditunjuk, atas nama nazhir tertentu.  Uang rupiah tersebut kemudian  &#8216;diinvestasikan&#8217; melalui bank bersangkutan, misalnya berupa deposito  atau produk finansial lainya, dan pihak nazhir tinggal &#8216;memetik&#8217;  hasilnya � &#8216;bagi hasil&#8217;, dalam istilah perbankan syariah.</p>
<p>Selain para nazhir wakaf, yang mewakili berbagai institusi seperti  Tabugn Wakaf Indonesia, Daarut Tauhid, Baitul Mal Hidayataullah, Baitul  Mal Muamalat, Majelis Wakaf Muhammadiyah, Majelis Wakaf NU,  Yayasan  Wakaf ESQ165, serta beberapa pondok Pesantren, seperti PP Al Ghazali,  dll, juga hadir sejumlah wakil dari bank syariah. Sebagian pimpinan  teras BWI juga hadir sebagai pembicara.</p>
<p>Jadi, yang ditawarkan oleh pemerintah dalam konsep &#8216;wakaf uang&#8217; ini  tidak lain adalah &#8216;membekukan uang&#8217; tersebut dan menikmati &#8216;anak&#8217;-ya.  Konsepnya tidak jauh dari &#8216;uang beranak uang&#8217;. Tentu saja pengelolaan  wakaf semacam ini tidak pernah dapat ditemukan dalam sejarah umat Islam.</p>
<p>Pak Zaim Saidi, yang hadir mewakili Baitul Mal Nusantara (BMN), dalam  kesempatan itupun memperkenalkan alternatif yang jauh lebih baik dan  halal, yakni menyimpan dan memanffatkan harta wakaf dalam bentu Dinar  dan Dirham. Baik yang sifatnya sementara, yaitu wakaf tunai yang  dikumpulkan untuk kemudian dibelanjakan demi keperluan wakaf, semisal  membangun gedung (yang tentu saja tidak masuk kategori wakaf uang dalam  definisi Pemerintah RI), maupun untuk keperluan produktif,  melalui  qirad.</p>
<p>Dalam sesi &#8216;Testimoni&#8217; Pak Zaim  menjelaskan kegiatan perwakafan BMN   saat ini, yakni pengembangan Imarah sebagai sebuah model, yang telah  dimulai dengan pembangunan kawasan Baitul Makmur. Disampaikan manfaat  yang jauh lebih baik mengumpulkan wkaf tunai itu brupa Dinar dan Dirham.  Secara umum, semua peserta menyepakati kenyataan ini, hanya soal  pelaksanaannya saja.</span>(001)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bmnusantara.org/2010/11/perkenalan-dinar-dirham-pada-para-nazhir/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

